Surat Gembala PraPaskah 2014 Keuskupan Surabaya

MEWUJUDKAN KELOMPOK KECIL UMAT YANG MISIONER

Bagi Umat Katolik Keuskupan Surabaya

(Hendaknya Surat Gembala ini dibacakan di semua gereja dan kapel dalam wilayah Keuskupan Surabaya pada tanggal 1 – 2 Maret 2014)

No. 54/G.111/II/2014

 

Saudara-saudari terkasih,

Sesaat lagi kita akan memasuki masa Prapaskah. Selama 40 hari, dimulai pada hari Rabu Abu yang jatuh pada tanggal 5 Maret 2014, kita diajak untuk membangun sikap tobat dan kasih. Masa ini menjadi persiapan rohani agar kita dapat dengan layak merayakan inti iman kita (sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan) dalam rangkaian perayaan Paskah.

Dalam masa Prapaskah, Gereja mengajak kita merenungkan kebesaran kasih Allah kepada kita, umatNya. Kebesaran kasih itu jauh melampaui pelbagai macam dosa yang kerap membelenggu hidup kita. Bacaan pertama hari ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah meninggalkan dan melupakan umatNya dalam pergulatan melawan dosa. Kebesaran kasih Allah bahkan digambarkan melebihi kasih yang mengikat seorang ibu dengan anaknya. “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (Yes 49:15)

Kebesaran kasih itu menunjukkan bahwa kita amatlah berharga di hadapan Allah. Martabat kemanusiaan kita jauh melampaui segala burung di langit yang tidak pernah menabur dan menuai tetapi tetap bisa hidup dalam kecukupan; kita pun jauh lebih indah di mata Allah, daripada bunga bakung di ladang yang tetap tumbuh elok tanpa bekerja dan memintal (bdk. Mat 6: 26.28). Semua gambaran dalam Injil hari ini menunjukkan bahwa Allah senantiasa memperhatikan hidup kita.

Dalam masa Prapaskah, saat kita membangun sikap tobat dan kasih, sebenarnya kita diajak untuk membangun sikap percaya akan kasih dan penyelenggaraan Allah dalam hidup manusia. Sikap ini menjadi pijakan kokoh untuk menyingkirkan segala kekuatiran dan egoisme yang seringkali menjadi akar perkembangan pelbagai macam dosa. Keberanian mengikis akar dosa akan memampukan kita untuk lebih memilih Allah dan kebenaranNya yang membawa pada keselamatan, daripada Mamon yang menjerumuskan ke dalam dosa. Pertobatan akhirnya menjadi wujud pembaharuan diri kita untuk selalu kembali kepada Allah setelah kita jatuh dalam dosa.

 

Saudara-saudari terkasih,

sebagaimana tradisi yang hidup dalam Gereja, pertobatan dan kasih haruslah terwujud dalam pilihan sikap dan tindakan. Secara khusus dalam masa Prapaskah hal ini kita nyatakan dengan melakukan Aksi Puasa dan Pembangunan (APP). Tema APP Keuskupan Surabaya 2014, selaras dengan prioritas program ArDas tahun ini, adalah: Mewujudkan Kelompok Kecil Umat yang Misioner.

Tema APP ini menegaskan dua hal.

Pertama, Gereja pada hakekatnya adalah persekutuan, kelompok umat beriman. Hakekat ini tampak dari sejarah keselamatan sebagaimana diwartakan dalam Kitab Suci. Allah menyatakan diriNya, memilih, dan memanggil Abraham bersama segenap keluarganya menuju negeri yang dijanjikanNya (bdk. Kej 12:1). Pilihan itu menjadi semakin jelas dalam ikatan perjanjian yang menjadikan bangsa Israel, keturunan Abraham, sebagai umatNya: “Aku akan mengangkat kamu menjadi umatKu, dan Aku akan menjadi Allahmu.” (bdk. Kel 6:6) Perjanjian itu bahkan diperbaharui dan disempurnakan dalam diri Yesus Kristus sehingga mencakup semua orang yang percaya kepadaNya dari segala jaman. Inilah kumpulan umat Allah yang baru, disatukan bukan karena daging melainkan karena Roh Allah (bdk. Yoh 3:5-6).

Kedua, sebagai persekutuan umat beriman Gereja bersifat misioner: diutus untuk mewartakan keselamatan Allah. Hakekat perutusan ini lahir dari Allah sendiri yang “menghendaki agar semua orang diselamatkan” (bdk. 1Tim 2:4). Kehendak Allah ini berpuncak dalam perutusan Yesus, PuteraNya sendiri, yang datang ke dunia untuk menghadirkan karya keselamatan dalam seluruh sabda dan karyaNya.

Karena itu, Gereja sebagai persekutuan umat beriman mengambil bagian dalam tugas yang sama, sebagaimana dibuat Yesus: Sang Imam, Nabi, dan Guru.

Kita menyadari bahwa tidaklah mudah menghidupi dua hal tersebut. Itu sebabnya melalui masa pertobatan kita ingin berbenah dan memperbaiki diri. Ada keprihatinan dan tantangan yang harus kita hadapi. Di satu sisi bisa dirasakan bahwa pemahaman dan kesadaran kita tentang pentingnya dimensi persekutuan dan tugas misioner Gereja masih perlu terus dikembangkan. Di sisi lain kesadaran dan pemahaman yang ada kerapkali justru merosot karena lemahnya kehendak untuk berkomunikasi serta merebaknya sikap egoistis dan individualistis. Perjumpaan dan pembinaan dalam pelbagai kelompok, entah teritorial maupun kategorial, juga tampak semakin bersifat massal seiring bertambahnya jumlah umat.

Keprihatinan dan tantangan itu secara nyata kerap kali muncul dalam kesulitan untuk mengadakan pertemuan dalam kelompok umat beriman. Pertemuan rutin dalam bentuk kegiatan kelompok seperti pendalaman iman, diskusi, sharing, atau rapat seringkali tak banyak diminati umat. Demikian juga tak jarang ada banyak kelompok merasa kesulitan untuk berbagi tugas atau merencanakan kegiatan karena terbatasnya umat yang bersedia terlibat. Dalam situasi ini, tidak heran bila ada di antara kita yang merasa tidak tersapa dan ditinggalkan sendirian.

Melalui kegiatan APP selama masa Prapaskah, saya mengajak Anda sekalian untuk merefleksikan sekaligus mewujudkan hakekat hidup gerejani kita sebagai kelompok umat beriman dan tugas perutusannya untuk mewartakan keselamatan. Berkat pembaptisan sesungguhnya setiap orang kristiani digabungkan dalam hakekat persekutuan dan tugas perutusan ini.

Marilah kita keluar dari kungkungan pola hidup beriman yang egoistis dan individualistis untuk berani berjumpa dan berkumpul bersama saudara seiman serta terlibat aktif dalam gerak perutusan Gereja. Kebersamaan sebagai umat beriman dapat dimulai dari kelompok kecil umat yang secara rutin bertemu untuk berdoa bersama, membaca dan mendengarkan sabda, serta berbagi pengalaman iman dan membantu mereka yang membutuhkan. Visi kebersamaan ini semoga membantu kita mencapai kepenuhan manusiawi sekaligus kristiani karena kita hanya dapat bertumbuh dan mewujudkan panggilan dalam kaitan dengan orang-orang lain (bdk. KASG, 149).

Secara konkret, dalam masa yang penuh rahmat ini saya mengajak Anda semua untuk dengan setia: pertama, memberikan waktu untuk terlibat dan hadir dalam pertemuan bersama umat di lingkungan, wilayah/stasi, paroki, atau dalam kelompok kategorial lain yang diikuti; kedua, menambah kesempatan dalam olah rohani dan matiraga, keikutsertaan dalam perayaan ekaristi serta pengakuan dosa agar batin semakin siap dan terarah bagi Allah; ketiga, mewujudkan kepedulian aktif dalam semangat solidaritas dan subsidiaritas bagi kebaikan bersama, misalnya dengan aksi dan karya sosial untuk membantu rehabilitasi korban bencana G. Kelud, dan bentuk-bentuk karya sosial lainnya seturut kebutuhan; keempat, berpartisipasi secara aktif dalam proses PEMILU mendatang sebagai wujud tanggungjawab sosial kita demi perbaikan mutu kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semoga Allah memberkati dan membimbing pertobatan kita dalam masa Prapaskah ini. Pada gilirannya, kiranya rahmat pertobatan semakin membawa kita untuk mencintai Allah dan sesama dengan lebih tulus dan total